Perjuangan Ditengah Pandemi Covid-19
Karya : Erni Rohmaningsih
Dipagi hari yang buta Ibu Tumini sudah bangun untuk mempersiapkan dagangan kue untuk dijual pada siang hari. Adonan demi adonan telah Ibu Tumini buat, dengan semangat yang membara tak terasa adonan yang telah Ibu Tumini buat sudah jadi kemudian Ibu Tumini mengolah adonan tersebut menjadi kue-kue yang lezat. Setelah beberapa waktu akhirnya kue-kue Ibu Tumini sudah matang tinggal dikemas dalam plastik-plastik yang menarik.
Saat sinar mentari sudah menampakkan cahayanya, Ibu Tumini bersiap menata dagangannya satu demi satu kue dimasukkan ke dalam keranjang dagangannya. Setelah semua kue siap dibawa, Ibu Tumini berpamitan kepada anak semata wayangnya yang bernama Andi. Andi adalah seorang anak laki-laki yang penurut, ia masih duduk dibangku sekolah menengah pertama. Di tengah wabah covid-19 ini pemerintah mengeluarkan kebijakan bahwa semua siswa belajar dirumah dengan sistem daring.
Ibu Tumini : Andi, ibu pergi jualan dulu ya nak
Andi : iya bu, hati-hati dijalan semoga dagangan Ibu laris
Ibu tumini : Jangan lupa dikerjakan tugas dari Bapak-Ibu guru mu ya
Andi : baik bu
Ibu Tumini : Assalamu’alaikum wr wb
Andi : Wa’alaikumussalam wr wb
Langkah demi langkah Ibu Tumini berjalan dengan penuh semangat menjajakan dagangannya suara nyaring keluar dari mulutnya. Rumah demi rumah yang ia lewati tak satupun orang yang memanggilnya untuk berhenti membeli kue dagangannya. Tak terasa ia sudah berada di ujung gang saat ia hendak menuju ke gang berikutnya ia bertemu dengan Ibu Mira pelanggang tetapnya
Ibu Tumini : Ibu Mira, ini bu ada kue kesukaan Ibu Mira
Ibu Mira : kali ini saya tidak beli dulu bu, lagi berhemat soalnya kemaren suami saya terkena PHK gara-gara pabrik di tempat suami saya bekerja sudah tidak beroperasi.
Ibu Tumini : oh gitu ya bu yang sabar ya, semoga suami Ibu dapat pekerjaan yang lain.
Ibu Mira : Amiin, terimakasih Bu do’anya.
Ibu Tumini : sambil memasukkan beberapa kue kedalam plastik. “Ini bu ada beberapa kue buat ibu dan anak-anak”
Ibu Mira : wah terimakasih banyak bu, semoga dagangan ibu habis terjual
Ibu Tumini : sama-sama bu, Amiin
Hari semakin siang, satu demi satu kue-kue yang ibu Tumini bawa laku terjual. Tetapi masih ada setengah kue yang berada di keranjang dagangannya akhirnya ia putuskan untuk berhenti sejenak dan duduk di bangku taman sambil meminum air yang ia bawa ia melihat keadaan sekitar biasa nya di sini banyak anak-anak yang bermain tapi kali ini taman ini begitu sepi sunyi tanpa penghuni.
Saat ia sedang merenung tiba-tiba ia teringat sesosok suaminya yang telah meninggal dunia dua tahun yang lalu yang meninggalkan dirinya beserta anak semata wayangnya. Di saat suaminya meninggal maka tugas dan tanggungjawab merawat dan membiayai sekolah anaknya ada di pundak dirinya, maka ia pun harus bantingtulang untuk kelangsungan hidup dirinya beserta anak semata wayangnya. Tak terasa air mata menetes di pipinya saat teringat sosok suaminya tapi ia sadar meratapi kesedihan tidak akan ada gunanya.
Suara adzan terdengar nyaring di telinganya, Ia menghapus air matanya dengan tisu lalu ia bangkit dari duduknya sambil membawa dagangannya menuju masjid terdekat untuk menunaikan ibadah sholat dhuhur, setelah selesai sholat lantas ia berdoa kepada Sang Pemberi rezeki agar dagangannya laku terjual. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya berkeliling kampung namun sebelum ia hendak beranjak dari masjid ada seorang ibu yang memanggil, ternyata yang memanggil adalah ibu Salma ketua yayasan pengurus panti asuhan kasih ibu.
Ibu Salma : “ Assalamu’alaikum bu”
Ibu Tumini : “wa’alaikumsallam wr wb”
Ibu Salma : “jualan apa saja bu ?”
Ibu Tumini : “jualan aneka kue bu, silahkan dipilih”
Ibu Salma : “boleh bu, aku beli semuanya ya bu, buat anak-anak panti nanti.”
Ibu Tumini : “Baik bu saya bungkuskan semuanya.”
Satu demi satu kue dimasukkan kedalam plastik berukuran besar kemudian plastik itu diberikan kepada Ibu Salma
Ibu Tumini : “ini bu sudah saya bungkuskan, totalnya dua ratus ribu rupiah”
Ibu Salma : “baik bu ini uangnya”
Ibu Tumini : “terimakasih banyak ya bu”
Ibu Salma : “iya sama-sama”
Dalam hati ia berkata “Alhamdulillah, Terimakasih Ya Allah, engkau telah mengabulkan do’aku dengan caramu”. Tak lupa sebelum beranjak pulang Ibu Tumini memasukkan uang ke dalam kotak amal Masjid. Ibu Tumini melanjutkan perjalanan menuju Rumahnya. Setelah sampai di rumah ia disambut hangat oleh buah hati yang telah menanti kepulangannya.
Kemudian Ibu Tumini bergegas mandi membersihkan badannya dan mencuci pakaian yang telah ia gunakan. Setelah selesai semuanya bu Tumini bercengkrama bersama anaknya diteras depan rumah ditemani teh hangat berserta cemilan. Ibu Tumini menceritakan kejadian yang menimpa dirinya tadi dan Ibu Tumini memberi nasehat kepada anaknya “ nak, rezeki terkadang datang dengan cara yang tidak diduga-duga, semua manusia hanya bisa berusaha, kemudian bertawakal tak lupa diimbangi dengan berdo’a karena hakikatnya rezeki yang mendatangkan dari Allah swt”.
Dari kejadian tadi Ibu Tumini merasa bahagia dan tambah rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Allah Swt kepadanya, karena ia memperoleh rezeki yang tidak ia duga.
Komentar
Posting Komentar